Kotagede merupakan salah satu kawasan
cagar budaya di Yogyakarta masih memiliki tingkat budaya yang kental.
Kebudayaan yang berada di Kotagede merupakan ciri khas dalam kehidupan
masyarakatnya baik budaya dalam bentuk fisik maupun non-fisik. Ciri khas budaya
yang dimiliki Kotagede merupakan asset berharga bagi warga masyarakat Kotagede,
sebagai pembuktian bahwa kawasan Kotagede memiliki citra identitas yang jelas
sebagai daerah bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam.
Budaya lokal dalam wujud fisik, yang
terdapat di Kotagede diantaranya adalah bentuk bangunan Komplek Masjid Besar
Mataram dan bentuk bangunan-bangunan rumah tradisional Jawa di Kotagede.
Sedangkan yang termasuk budaya lokal dalam wujud non-fisik terdapat dalam tata
nilai, kearifan-kearifan yang dimiliki oleh masyarakat lokal Kotagede,
kerajinan perak, kesenian tradisional, dan makanan tradisional.
Kesenian sebagai salah satu budaya dari
masyarakat tumbuh dengan baik di daerah Kotagede. Kesenian tradisional Kotagede
antara lain Karawitan, Wayang Tingklung, dan Sholawatan. Karawitan merupakan
kesenian tradisional asli Kotagede. Wayang Tingklung merupakan sejenis kesenian
wayang yang sangat unik, pertunjukan Wayang tingklung berbeda dengan
pertunjukan Wayang pada umumnya. Dalam pertunjukan Wayang Tingklung, peran
dalang tidak hanya diposisikan sebagai orang yang memainkan wayang dan penguasa
jalan cerita, akan tetapi dalang juga melantunkan sendiri instrument pengiring
dengan suaranya. Dengan kata lain tidak ada alat music Gamelan, namun cukup
bibir yang menirukan suara Gamelan.
Di Kotagede, kesenian yang berkembang
cenderung kearah seni religious. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang
masyarakat Kotagede yang religious sehingga tidak mempengaruhi corak kesenian
yang dihasilkan. Salah satu contoh kesenian tersebut adalah Shalawatan.
Shalawatan merupakan kesenian yang sudah menjadi tradisi di Kotagede sejak
Kerajaan Mataram Islam. Pada awalnya kegiatan ini hanya diadakan pada upacara
peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yaitu untuk memberikan penghormatan
kepada Nabi Muhammad SAW. Syair yang dibacakan berisi tentang sejarah kehidupan
Nabi Muhammad sebagai suri teladan. Alat musik yang digunakan adalah Gong,
Kempul, dan Geblu.
Bangunan komplek Masjid Besar Mataram
merupakan salah satu komponen asli Kotagede yang berada di sebelah selatan
Pasar Kotagede. Pada bangunan komplek Masjid Besar Mataram terdapat gapura
Gapuraksa, Bangsal Duda, Sendang Saliran (tempat pemandian) untuk putrid dan
Sendang Saliran Kakung, Pasarean Hastana Khita Ageng, Benteng Dalam (Cepuri),
Beteng Luar (Baluarti), dan jagang. Kedua beteng berfungsi sebagai pertahanan
keamanan dan pohon beringin tua yang disebut dengan Wringin Sepuh yang masih
tumbuh kokoh hingga sekarang.
Rumah tradisional yang berada di
Kotagede dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkaan pada gaya
arsitekturnya, yaitu rumah Kalang dan rumah tradisional Jawa. Rumah Kalang
adalah rumah yang berstrukturkan ruangan-ruangan Jawa, akan tetapi detailnya
berkonsep Eropa. Ciri-ciri rumah Kalang antara lain tiang bergaya Corinthia-Romawi,
terdapat hiasan berbentuk kaca patri berwarnaa-warni, banyak menggunakan tegel
bermotif, baik untuk lantai maupun untuk penutup dinding bagian bawah, serta
terdapat banyak pintu dan jendela berukuran besar. Adapun unsure tradisional
yang digunakan ialah susunan bilik masih menggunakan prinsip tiga senthong,
gondhok, gadri, dapur, kamar mandi, dan sumur.
Bangunan-bangunan rumah di Kotagede
dibangun berdasarkan konsep tradisional, bangunan asli Kotagede adalah bangunan
yang berdiri sebelum tahun 1930. Pada masa sebelum tahun 1930 bangunan dibangun
sebagai pendukung kejayaan Kotagede sebagai pusat Kerajaan Mataram yang
diidentifikasi berasitektur Indis, yaitu perpaduan antara arsitektur tradsional
Jawa dan Kolonial.
Sebelum terjadi gempa bumi 27 Mei 2006,
bentuk bangunan rumah tradisional Jawa yang banyak dijumpai di Kotagede yaitu
rumah Kalang, Panggang pe, Limasan, Joglo, dan rumah Kampung, setelah terjadi
gempa bumi, banyak rumah-rumah tradisional Jawa yang terdapat di Kotagede rubuh
akibat gempa bumi.
Bentuk bangunan rumah Panggang pe
merupakan bentuk bangunan beratap satu yang umumnya dipakai untuk pos ronda.
Bentuk bangunan Kampung merupakan pengembangan bentuk dari bentuk rumah Panggang
pe yang mempunyai atap dua sisi, umumnya digunakan untuk kedai, warung, toko,
atau dapat juga untuk tempat tempat tinggal. Bentuk Limasan, bentuk Limasan
ditandai dengan adanya dudur suwunan (aatap) bebrbentuk limas tanpa tutup
keong, sedangkan bentuk rumah Joglo adalah bangunan rumah yang terdiri dari
pendopo yang merupakan tempat menerima tamu, ndalem atau ruang keluarga dan
gondok yang berfungsi sebagai dapur.
Bangunan rumah tradisional Jawa yang
berada di Kotagede, hampir sama dengan bangunan rumah tradisional Jawa Tengah
pada umumnya, yang membedakaan rumah tradisional Jawa yang terdapat di Jawa
Tengah pada umumnya dengan yang berada di Kotagede adalah, rumaah tradisional
Jawa yang dibangun di Kotagede bentuk bangunan rumahnya besar-besar dengan
dikelilingi pagar tembok tebal dan tinggi, setinggi bangunan rumah dengan satu
regol uatam (pintu besar) dan diba ngun saling berhimpitan dengan rumah lain
sehingga membentuk suatu lorong-lorong atau gang-gang kecil, yang oleh para
warga lokal Kotagede gang tersebut disebut dengan sebutan gang rukunan.
Bentuk atap yang dikenal dengan Joglo,
bangunan asli Kotagede adalah berbentuk datar dan menonjol berbentuk segitiga,
dengan jenis atap Kampung dan Limasan sejajar dengan jalan maupun yang tegak
lurus dengan jalan. Ketinggian bangunan terdiri dari satu lantai dengan tinggi
bidang massif bangunan hanya sekitar 2.5 meter sampai 3.5 meter bangunan dengan
dimensi lebar yang kecil (< 5cm), namun dengan pola yang berderet-deret dan
saling berhimpitan antara rumah satu dengan lainnya mempertegas garis
horizontal yang tercipta. Pada pintu dan jendela bangunan membentuk garis
vertical, dengan model seperti kotak yang memiliki dimensi tinggi dan lebar
tidak berbeda jauh.
Sebagai pemuda Kotagede, sudah
selayaknya kita memelihara dan melestarikan kebudayaan Kotagede, agar kelak di
kemudian hari tidak termakan oleh zaman.
Sumber: Skripsi Beti Widyastuti
UIN SK 2009
