arah
kebijakan dan manajemen pemerintah untuk mewujudkan MDGs (Millenium Development
Goals), yang pertama, memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem. Seandainya
tidak ada orang miskin, hampir semua masalah kita praktis terselesaikan. Ketika
kita punya uang, kita tentu bisa memeriksakan diri ke dokter yang baik. kita
juga bisa memperoleh sambungan jaringan air minum serta makanan berkualitas.
Karena itu, tujuan pertama dalam MDGs adalah mengurangi jumlah penduduk miskin,
misalnya menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, atau menyediakan jaring
pengaman sosial bagi penduduk termiskin.
Kedua,
mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Tampaknya, di bidang pendidikan,
Indonesia lebih berhasil. Tujuan kedua MDGs ini adalah memastikan bahwa semua
anak menerima pendidikan dasar. Sayangnya, kita harus berkutat agak lebih lama
di sini. Dalam hal angka partisipasi di sekolah kita memang cukup berhasil.
Tetapi tujuan kedua MDGs ini bukanlah sekedar semua anak bisa sekolah tetapi
memberikan mereka pendidikan dasar yang utuh. Kenyataannya, banyak anak yang
tidak bisa bersekolah dengan lancar di sekolah dasar. Ada yang tidak naik kelas
atau bahkan terpaksa berhenti.
Ketiga,
Mendorong kesetaran gender dan pemberdayaan perempuan. Dalam banyak hal,
perempuan di Indonesia telah mencapai kemajuan pesat, meskipun, masih cukup
jauh dari pencapaian kesetaraan gender. Data tujuan ketiga MDGs menunjukkan hal
tersebut dengan cukup jelas. Tujuan ini memiliki tiga target. Pertama,
menyangkut pendidikan. Untuk hal ini, nampaknya kita cukup berhasil. Namun,
terkait target kedua dan ketiga, yaitu lapangan pekerjaan dan keterwakilan
dalam parlemen, kesempatan yang dimiliki perempuan Indonesia masih kurang.
Keempat,
menurunkan angka kematian anak. Kita semua ingin menikmati usia panjang dan
hidup sehat. Kenyataannya, sekarang kita memang hidup lebih lama. Antara 1970
dan 2005, usia harapan hidup di negeri ini rata-rata meningkat sekitar 15
tahun. Anak-anak yang lahir di Indonesia saat ini dapat mengharapkan hidup
hingga usia 68 tahun. Anda dapat memilih usia harapan hidup sebagai satu
indikator kesehatan. Namun ada satu ukuran lainnya yang sangat penting, yaitu
jumlah anakanak yang meninggal. Anak-anak, terutama bayi, lebih rentan terhadap
penyakit dan kondisi hidup yang tidak sehat. Itulah sebabnya tujuan keempat
MDGs adalah mengurangi jumlah kematian anak.
Kelima,
Meningkatkan kesehatan ibu. Setiap tahun sekitar 20.000 perempuan di Indonesia
meninggal akibat komplikasi dalam persalinan. Melahirkan seyogyanya menjadi
peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Sebenarnya, hampir
semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan
pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa
angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka
yang tepat.
Keenam, Memerangi HIV dan AIDS,
malaria serta penyakit lainnya. Tujuan keenam dalam MDGs menangani berbagai
penyakit menular paling berbahaya. Pada urutan teratas adalah Human
Immunodenciency Virus (HIV), yaitu virus penyebab Acquired Immuno Deciency
Syndrome (AIDS), terutama karena penyakit ini dapat membawa dampak yang
menghancurkan, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap
negara secara keseluruhan. Indonesia beruntung bahwa HIV belum mencapai kondisi
seperti yang terjadi di Afrika dan beberapa negara Asia Tenggara.
Ketujuh,
Memastikan kelestarian lingkungan. Pembangunan di Indonesia telah banyak
mengorbankan lingkungan alam. Kita menebang pohon, merusak lahan, membanjiri
sungai-sungai dan jalur air serta atmosfer dengan lebih banyak polutan. Tujuan
MDGs ketujuh adalah untuk menghalangi kerusakan ini. Pertama, tujuan ini
menelaah seberapa besar wilayah kita yang tertutup oleh pohon. Ini penting bagi
Indonesia karena kita memiliki sejumlah hutan yang paling kaya dan paling
beragam di dunia. Namun tidak untuk jangka waktu yang terlalu lama lagi. Selama
periode 1997 hingga 2000, kita kehilangan 3,5 juta hektar hutan per tahun25,
atau seluas propinsi Kalimantan Selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar