Beberapa tahun terakhir ini, banyak para
pelaku industri yang terkadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis limbah dan sampah. Limbah padat bagi lingkungan
hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan hidup masyarakat
umum. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri besar dan kecil sangat
merugikan jika limbah padat tersebut tidak diolah dengan baik menjadi sesuatu
yang lebih bermanfaat. Berbicara mengenai limbah, ada baiknya melihat rujukan
yang dirumuskan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi bahwa limbah adalah
buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis
limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada
air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah yang seringkali tidak dikehendaki
kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara
kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa
anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah
dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia,
sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.
Limbah banyak sekali jenisnya. Salah satu
limbah yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah limbah
kertas. Yusman (2010) mengatakan bahwa kertas merupakan salah satu komoditi
yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh umat manusia di dunia. Kehidupan
modern kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas yang bahan bakunya
sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Dengan demikian, makin
boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk
dijadikan pulp (bubur) calon kertas. Sebagai gambaran kasar, untuk
menghasilkan 1 ton serat asli pulp kimia diperlukan sekitar 1,5 ton
kayu. Jadi dapat dibayangkan apabila penggunaan kertas hanya dipenuhi oleh
serat asli, maka akan berdampak langsung pada kelestarian lingkungan hidup.
Perlu diketahui bahwa kebutuhan kertas di
Indonesia pada tahun 1987 hanya membutuhkan 782.420 ton dan pada tahun 1996
sudah mencapai angka 3.119.970 ton. Dari semua kertas yang dikonsumsi tersebut
hanya sebagian kecil yang kembali ke pabrik untuk didaur ulang karena terjadi
benturan kepentingan dengan penggunaan lain oleh masyarakat. Namun demikian, bukan
berarti kertas yang tidak kembali ke pabrik kertas tersebut sepenuhnya
dimanfaatkan oleh masyarakat. Kertas bekas yang tidak termanfaatkan, karena
satu dan lain hal akhirnya akan bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
sehingga akan menambah volume sampah dan memperpendek umur TPA itu sendiri (Kompas,
18 Desember 2003).
Meningkatnya pertumbuhan industri pulp
dan kertas di Indonesia telah membawa dampak terhadap meningkatnya permasalahan
lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah. Oleh karenanya, dalam upaya
terpeliharanya kualitas lingkungan industri harus meningkatkan pengelolaan
limbahnya melalui pengolahan yang lebih efektif dan kemungkinan pemanfaatannya.
Industri pulp dan kertas pada saat ini dihadapkan pada masalah
penanganan limbah padat yang jumlahnya cukup besar (Setiadji, 2001).
Dalam rangka mengantisipasi tuntutan
masyarakat yang makin tinggi terhadap masalah lingkungan, telah mendorong pihak
industri untuk melakukan upaya pemanfaatan limbah sebagai alternatif
pengelolaan lingkungan yang perlu dikembangkan, karena selain tidak ada lagi
sisa yang terbuang juga dapat memberikan nilai tambah (Adibroto, 2008).
Pemanfaatan kertas bekas perlu dilakukan
agar tidak mengganggu lingkungan hidup masyarakat. Pemanfaatan kembali kertas
bekas secara langsung untuk penggunaan lain merupakan upaya penghematan
terhadap peningkatan kebutuhan kertas dari serat asli. Upaya daur ulang kertas
bekas tersebut akan berdampak positif terhadap kemusnahan hutan dimasa
mendatang. Salah satu upaya daur ulang sampah kertas adalah memberi perlakuan
terhadap kertas bekas untuk dijadikan produk bahan pengemas kembali dengan
ukuran yang sama atau lebih kecil.
Untuk mengolah limbah kertas, dibutuhkan
berbagai macam peralatan dan bahan. Alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan
untuk membuat kertas daur ulang bisa dikatakan mudah didapat karena sering kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat-alat yang digunakan adalah screen
dengan bingkai atau cetakan, batako atau batu, ember, setrika, blender,
baskom, dan meja. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kertas, air, kain
katun, spons, dan juga papan kayu.
Proses pembuatan daur ulang kertas ini
juga cukup mudah dan relatif simpel, sehingga bisa dilakukan oleh semua
kalangan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merobek kecil-kecil kertas
bekas, kemudian merendamnya ke dalam air selama satu hari. Langkah kedua, memblender
kertas seperti bubur dan menuangkan ke dalam baskom yang berisi air secukupnya
sambil diaduk. Langkah ketiga, meletakkan spons di atas meja, kemudian menaruh
kain katun yang sudah dibasahi pada bagian atasnya. Langkah keempat, menyaring
campuran di baskom dengan memakai screen sablon dan kemudian meletakkannya
di atas spons yang sudah dilapisi kain katun dengan posisi terbalik, lalu menggosok
sedikit screennya dan kemudian diangkat dengan hati-hati. Langkah kelima,
menutup dengan kain yang sudah dibasahi dan menambah satu lapis lagi kain
basah, kemudian mengulang kembali langkah keempat. Sesudah menjadi beberapa
lapis, langkah keeenam adalah melakukan proses pengepresan dengan menaruh papan
kayu pada bagian atasnya dan memberi pemberat seperti batako atau batu. Langkah
ketujuh, membiarkan selama satu jam agar
airnya berkurang dan sebelum diangkat harus dipastikan sudah cukup kering.
Langkah kedelapan, mengangkat sepasang demi sepasang dan menjemurnya di tempat
yang panas. Langkah terakhir adalah menyetrika sepasang demi sepasang kemudian
membuka kainnya pelan-pelan, dan kertas daur ulang siap digunakan.
Jika kita ingin membuat motif khusus, maka
perlu dilakukan proses-proses tambahan seperti proses tempelan, proses
campuran, dan juga proses press. Proses tempelan dilakukan pada saat sebelum
kita menutup campuran bubur kertas dengan kain yang sudah dibasahi, yaitu dengan
cara menempelkan bunga, rumput, atau daun kecil-kecil di atasnya. Proses
campuran dilakukan ketika memblender kertas, yaitu dengan cara menambahkan
bunga, rumput, atau bahan alami lain, yang akan memberikan warna dan pola khusus.
Sedangkan proses press dilakukan ketika sedang mengepres kertasnya, yaitu
dengan cara menaruh daun atau sesuatu yang bermotif bagus kemudian meletakkan
papan kayu di atasnya dan diberi pemberat.
Banyak sekali contoh barang yang bisa
dibuat dengan kertas daur ulang. Misalnya kertas untuk menggambar, pembungkus
buku, tempat pensil, undangan, amplop, dan juga map. Kertas daur ulang juga
bagus sekali untuk ditempel di atas karya-karya yang terbuat dari karton
sepertu kotak pensil, bingkai foto, dan juga kotak kado.
Untuk proses pewarnaan, kita dapat
menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Bahan-bahan alami yang
bisa dipakai untuk mewarnai kertas adalah kunyit untuk warna kuning, daun jati
untuk warna merah, daun pandan wangi untuk warna hijau, gambir untuk warna
hitam, pacar cina untuk warna merah muda, dan nila untuk warna biru. Jadi,
Mulai sekarang ayo kita mendaur ulang kertas sekaligus menyelamatkan hutan
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar