Translate

Rabu, 15 Mei 2013

PESONA KECANTIKAN KERTAS DAUR ULANG

Beberapa tahun terakhir ini, banyak para pelaku industri yang terkadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang menghasilkan berbagai jenis limbah dan sampah. Limbah padat bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan hidup masyarakat umum. Limbah padat yang dihasilkan oleh industri besar dan kecil sangat merugikan jika limbah padat tersebut tidak diolah dengan baik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Berbicara mengenai limbah, ada baiknya melihat rujukan yang dirumuskan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi bahwa limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.
Limbah banyak sekali jenisnya. Salah satu limbah yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah limbah kertas. Yusman (2010) mengatakan bahwa kertas merupakan salah satu komoditi yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh umat manusia di dunia. Kehidupan modern kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas yang bahan bakunya sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Dengan demikian, makin boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan pulp (bubur) calon kertas. Sebagai gambaran kasar, untuk menghasilkan 1 ton serat asli pulp kimia diperlukan sekitar 1,5 ton kayu. Jadi dapat dibayangkan apabila penggunaan kertas hanya dipenuhi oleh serat asli, maka akan berdampak langsung pada kelestarian lingkungan hidup.
Perlu diketahui bahwa kebutuhan kertas di Indonesia pada tahun 1987 hanya membutuhkan 782.420 ton dan pada tahun 1996 sudah mencapai angka 3.119.970 ton. Dari semua kertas yang dikonsumsi tersebut hanya sebagian kecil yang kembali ke pabrik untuk didaur ulang karena terjadi benturan kepentingan dengan penggunaan lain oleh masyarakat. Namun demikian, bukan berarti kertas yang tidak kembali ke pabrik kertas tersebut sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Kertas bekas yang tidak termanfaatkan, karena satu dan lain hal akhirnya akan bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga akan menambah volume sampah dan memperpendek umur TPA itu sendiri (Kompas, 18 Desember 2003).
Meningkatnya pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia telah membawa dampak terhadap meningkatnya permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah. Oleh karenanya, dalam upaya terpeliharanya kualitas lingkungan industri harus meningkatkan pengelolaan limbahnya melalui pengolahan yang lebih efektif dan kemungkinan pemanfaatannya. Industri pulp dan kertas pada saat ini dihadapkan pada masalah penanganan limbah padat yang jumlahnya cukup besar (Setiadji, 2001).
Dalam rangka mengantisipasi tuntutan masyarakat yang makin tinggi terhadap masalah lingkungan, telah mendorong pihak industri untuk melakukan upaya pemanfaatan limbah sebagai alternatif pengelolaan lingkungan yang perlu dikembangkan, karena selain tidak ada lagi sisa yang terbuang juga dapat memberikan nilai tambah (Adibroto, 2008).
Pemanfaatan kertas bekas perlu dilakukan agar tidak mengganggu lingkungan hidup masyarakat. Pemanfaatan kembali kertas bekas secara langsung untuk penggunaan lain merupakan upaya penghematan terhadap peningkatan kebutuhan kertas dari serat asli. Upaya daur ulang kertas bekas tersebut akan berdampak positif terhadap kemusnahan hutan dimasa mendatang. Salah satu upaya daur ulang sampah kertas adalah memberi perlakuan terhadap kertas bekas untuk dijadikan produk bahan pengemas kembali dengan ukuran yang sama atau lebih kecil.
Untuk mengolah limbah kertas, dibutuhkan berbagai macam peralatan dan bahan. Alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kertas daur ulang bisa dikatakan mudah didapat karena sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat-alat yang digunakan adalah screen dengan bingkai atau cetakan, batako atau batu, ember, setrika, blender, baskom, dan meja. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kertas, air, kain katun, spons, dan juga papan kayu.
Proses pembuatan daur ulang kertas ini juga cukup mudah dan relatif simpel, sehingga bisa dilakukan oleh semua kalangan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merobek kecil-kecil kertas bekas, kemudian merendamnya ke dalam air selama satu hari. Langkah kedua, memblender kertas seperti bubur dan menuangkan ke dalam baskom yang berisi air secukupnya sambil diaduk. Langkah ketiga, meletakkan spons di atas meja, kemudian menaruh kain katun yang sudah dibasahi pada bagian atasnya. Langkah keempat, menyaring campuran di baskom dengan memakai screen sablon dan kemudian meletakkannya di atas spons yang sudah dilapisi kain katun dengan posisi terbalik, lalu menggosok sedikit screennya dan kemudian diangkat dengan hati-hati. Langkah kelima, menutup dengan kain yang sudah dibasahi dan menambah satu lapis lagi kain basah, kemudian mengulang kembali langkah keempat. Sesudah menjadi beberapa lapis, langkah keeenam adalah melakukan proses pengepresan dengan menaruh papan kayu pada bagian atasnya dan memberi pemberat seperti batako atau batu. Langkah ketujuh, membiarkan selama  satu jam agar airnya berkurang dan sebelum diangkat harus dipastikan sudah cukup kering. Langkah kedelapan, mengangkat sepasang demi sepasang dan menjemurnya di tempat yang panas. Langkah terakhir adalah menyetrika sepasang demi sepasang kemudian membuka kainnya pelan-pelan, dan kertas daur ulang siap digunakan.
Jika kita ingin membuat motif khusus, maka perlu dilakukan proses-proses tambahan seperti proses tempelan, proses campuran, dan juga proses press. Proses tempelan dilakukan pada saat sebelum kita menutup campuran bubur kertas dengan kain yang sudah dibasahi, yaitu dengan cara menempelkan bunga, rumput, atau daun kecil-kecil di atasnya. Proses campuran dilakukan ketika memblender kertas, yaitu dengan cara menambahkan bunga, rumput, atau bahan alami lain, yang akan memberikan warna dan pola khusus. Sedangkan proses press dilakukan ketika sedang mengepres kertasnya, yaitu dengan cara menaruh daun atau sesuatu yang bermotif bagus kemudian meletakkan papan kayu di atasnya dan diberi pemberat.
Banyak sekali contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas daur ulang. Misalnya kertas untuk menggambar, pembungkus buku, tempat pensil, undangan, amplop, dan juga map. Kertas daur ulang juga bagus sekali untuk ditempel di atas karya-karya yang terbuat dari karton sepertu kotak pensil, bingkai foto, dan juga kotak kado.
Untuk proses pewarnaan, kita dapat menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Bahan-bahan alami yang bisa dipakai untuk mewarnai kertas adalah kunyit untuk warna kuning, daun jati untuk warna merah, daun pandan wangi untuk warna hijau, gambir untuk warna hitam, pacar cina untuk warna merah muda, dan nila untuk warna biru. Jadi, Mulai sekarang ayo kita mendaur ulang kertas sekaligus menyelamatkan hutan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar