Akhir-akhir
ini, muncul gejala meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan wisata ke
berbagai daerah penjuru dunia. Wisata saat ini telah menjadi gaya hidup, baik
di dalam negeri maupun di luar negeri. Adanya perkembangan transportasi yang
makin canggih, seolah-olah tidak ada lagi batas teritorial antara benua satu
dengan benua lain. Tentu saja, hal itu dapat menyebabkan pertukaran antar
negara, sehingga mungkin dapat terjadi suatu masalah yang harus diantipasi
sejak sebelum seseorang melakukan perjalanan.
Berbicara
mengenai wisata, ada baiknya jika kita mempelajari tentang kedokteran wisata
yang nantinya akan sangat berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat bagi
para wisatawan. Zuckerman (2002) mengatakan bahwa kedokteran wisata atau travel
medicine adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari persiapan kesehatan
dan penatalaksanaan masalah kesehatan orang yang bepergian (travellers).
Bidang ilmu ini baru saja berkembang dalam tiga dekade terakhir sebagai respons
terhadap peningkatan arus perjalanan internasional di seluruh dunia. Tahun
2003, World Tourism Organization mencatat ada 691 juta international
arrivals di seluruh bandara di dunia dan tahun 2020 diproyeksikan akan meningkat
sampai 1.56 milyar.
Berdasarkan
definisi di atas, pelayanan kedokteran wisata diberikan di negara-negara maju
untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan bepergian ke negara-negara
berkembang. Biasanya, orang-orang yang mendatangi pelayanan kedokteran wisata pada
umumnya adalah orang sehat yang membutuhkan informasi dan mereka tidak
menganggap dirinya sebagai seorang pasien, meskipun pada akhirnya status mereka
berubah menjadi pasien setelah pulang dari perjalanan.
Pelayanan
kedokteran wisata diberikan di travel clinic yang umumnya berada di
negara-negara maju untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan bepergian ke
negara-negara berkembang. Menurut World Tourism Organization (2000)
bahwa waktu sekarang ini diperkirakan setiap tahun ada 80 juta orang yang
bepergian dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang.
Sampai
saat ini banyak orang beranggapan bahwa negara-negara berkembang hanya dianggap
sebagai daerah tujuan wisata yang mempunyai risiko kesehatan yang harus
mendapatkan perhatian khusus. Maka dari itu, konsultasi sebelum melakukan
perjalanan sangat diperlukan oleh travellers yang bermaksud mengunjungi
negara berkembang.
Namun,
permasalahan yang timbul saat ini adalah pelayanan kesehatan di negara
berkembang belum mempunyai tujuan yang jelas, yaitu senantiasa melindungi warga
negara mereka yang akan bepergian. Oleh sebab itu, berbagai pengetahuan dan
skill baru di bidang kedokteran wisata sangat dibutuhkan dan harus dikuasai
oleh para tenaga kesehatan, salah satunya adalah mengenai travel clinic
dan pelayanannya.
Di
sini ada perbedaan bentuk komunikasi yang fundamental yang harus dipahami oleh
tenaga kesehatan. Dalam praktek kedokteran konvensional, hubungan dokter
pasien umumnya adalah ‘hubungan terapeutik’ dengan model paternalistik
ketika dokter menentukan apa yang terbaik untuk si pasien. Namun, dalam pelayanan
kedokteran wisata, dokter dan klien mempunyai hubungan sejajar yang bersifat informative
(dokter berperan sebagai ahli teknis), interpretive (dokter berperan
sebagai konselor untuk membantu klien memutuskan yang penting bagi dirinya),
dan deliberative yaitu dokter berperan sebagai guru yang memberi tahu
klien apa yang harus dikerjakan dan mengapa hal itu harus dikerjakan (Leggat
& Goldsmid, 2002).
Perlu
diketahui bahwa dokter tidak hanya mengusahakan pencegahan penyakit serta
menangani berbagai masalah kesehatan pada travellers, namun juga
berpartisipasi aktif untuk melakukan perbaikan pelayanan kesehatan dan keamanan
wisatawan. Dengan demikian, seorang dokter kedokteran wisata harus selalu up
to date dan mempunyai pengetahuan yang luas mengenai perubahan-perubahan
yang cepat di seluruh dunia, seperti iklim global, ekologi, pengetahuan wabah
penyakit, dan bahkan perubahan politik negara lain.
Mardh
(2002) berpendapat bahwa saat ini travel medicine telah jauh berkembang
dan meluas ke cabang-cabang ilmu lain seperti migrant health & refugees,
kedokteran olahraga, adventure medicine, aviation medicine, bioterorisme,
dan lain sebagainya. Setiap dokter dapat menemukan minatnya sendiri secara
lebih khusus bahkan dapat menjadi sarana penyaluran hobi seperti diving,
fotografi, dan lain-lain.
Disisi
lain, pelayanan kedokteran wisata harus mencakup semua aspek. Di negara-negara
maju, pelayanan kedokteran wisata dibuat di dalam rumah sakit. Tentu saja hal
ini sangat menguntungkan karena fasilitas yang lebih lengkap dari pada klinik
umum. Di lain pihak, pelayanan kedokteran wisata yang profesional pada umumnya
didirikan sebagai sebuah perusahaan. Lokasi yang dipilih lebih di tempat-tempat
bisnis publik seperti mal dan biro perjalanan. Hal ini dipercaya dapat
mempermudah para klien dalam mendapatkan akses berita perjalanan di berbagai
tempat bisnis pada jam-jam kerja.
Pelayanan
kedokteran wisata harus diberikan sebelum seseorang melakukan perjalanan. Saat
yang paling baik adalah 6-8 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Namun, jika
terlambat, 1-2 hari sebelum keberangkatan pun masih dimungkinkan. Di samping
itu, klien juga mungkin akan kembali ke travel clinic setelah ia pulang
dari bepergian, terutama jika terjadi gejala-gejala penyakit tertentu (Ryan,
Wilson, & Kain, 2002).
Bentuk
pelayanan kedokteran wisata yang dapat diberikan di travel clinic adalah
mengenai imunisasi, medical kit, dan konsultasi sebelum perjalanan.
Selain itu, pengembangan sarana tambahan seperti konsultasi melalui telepon,
apotek, dan pelayanan penjualan alat-alat untuk pencegahan penyakit juga sangat
diperlukan.
World
Health Organization (2005) mengatakan bahwa pelayanan
kedokteran wisata yang ideal merupakan suatu kesinambungan sejak sebelum
berangkat sampai setelah pulang dari perjalanan. Sebanyak 1-5% orang yang
bepergian dari negara-negara maju ke negara berkembang dilaporkan mengalami
penyakit yang cukup serius selama perjalanan, 0,01-0,1% orang membutuhkan
evakuasi medik, dan 1 dari antara 100.000 orang telah meninggal.
Maka
dari itu, informasi yang aktual dan akurat merupakan hal yang sangat penting
dalam kedokteran wisata. Berbagai nasihat dan saran perjalanan diberikan dalam
bentuk edukasi dan konsultasi tentang resiko kesehatan yang dapat dialami
seseorang selama melakukan perjalanan, baik pada saat di perjalanan maupun
setelah tiba di tempat tujuan.
Untuk
mempermudah penyampaian informasi kepada banyak orang, maka diperlukan cara
komunikasi yang berbeda. Kita dapat membuat suasana yang lebih menyenangkan,
seperti klien dapat bercerita tentang resiko kesehatannya dengan petugas
kesehatan seperti dua orang yang sedang melakukan diskusi, bukan layaknya
dokter yang memberi instruksi kepada pasiennya. Untuk menjelaskan berbagai hal
kepada klien, maka diperlukan adanya brosur, leaflet, dan formulir.
Berbicara
tentang travel clinic yang profesional, pasti kita akan mengarah pada
fasilitas yang ada. Travel clinic yang baik harus mempunyai perangkat
telekomunikasi seperti telepon, fax, dan internet. Selain itu, travel clinic
juga harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen berupa status khusus untuk perjalanan,
kartu catatan imunisasi, dan sistem rekam medik yang baik. Ruangan pada travel
clinic harus terpisah antara ruang tunggu, kamar konsultasi, dan ruang
tindakan. Lebih bagusnya lagi jika menyediakan laboratorium atau menjalin kerja
sama dengan laboratorium di luar klinik serta meyediakan bahan-bahan edukasi
seperti brosur-brosur dan buku saku untuk berbagai masalah kesehatan dengan
pencegahannya, buku-buku tentang perjalanan, informasi jaringan pelayanan
kesehatan, dan juga informasi tentang alat-alat pencegahan penyakit.
Hal
yang perlu diperhatikan adalah seorang dokter harus menyadari bahwa perjalanan
yang sehat tidak hanya sekedar memberikan obat dan imunisasi, tetapi pemberian
edukasi kepada klien juga merupakan elemen penting. Tujuan dari adanya
konsultasi adalah harus mampu menunjukkan sumber-sumber informasi kepada traveller
seperti pelayanan telepon.
Namun,
pendidikan di negara-negara maju masih didasarkan pada kebutuhan mereka sendiri
dan belum tentu relevan dengan kebutuhan di negara-negara berkembang. Oleh
karena itu, tenaga kesehatan di negara-negara berkembang sangat dianjurkan
mengikuti simposium atau kursus-kursus yang diselenggarakan oleh
Perhimpunan Kesehatan Wisata Dunia.
Untuk
mengetahui lebih lanjut tentang cara-cara menyelenggarakan travel clinic,
seorang tenaga kesehatan dapat memperolehnya secara formal dengan mengikuti
pendidikan pascasarjana. Setelah itu, ia dapat mengikuti sertifikasi
internasional yang diselenggarakan oleh ISTM setiap dua tahun sekali (Schiff,
2001).
Harapan
ditahun ini adalah menjadi awal yang baik untuk memperbaiki pelayanan
kedokteran wisata dunia, khususnya di Indonesia yang nantinya akan sangat
berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat bagi para wisatawan. Sehingga
kerja sama antara bidang penyedia kesehatan, agen biro perjalanan, dan
wisatawan itu sendiri sangat diperlukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar