Translate

Selasa, 14 Mei 2013

PERBAIKAN PELAYANAN KEDOKTERAN WISATA, MUNGKINKAH?

Akhir-akhir ini, muncul gejala meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan wisata ke berbagai daerah penjuru dunia. Wisata saat ini telah menjadi gaya hidup, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Adanya perkembangan transportasi yang makin canggih, seolah-olah tidak ada lagi batas teritorial antara benua satu dengan benua lain. Tentu saja, hal itu dapat menyebabkan pertukaran antar negara, sehingga mungkin dapat terjadi suatu masalah yang harus diantipasi sejak sebelum seseorang melakukan perjalanan.
Berbicara mengenai wisata, ada baiknya jika kita mempelajari tentang kedokteran wisata yang nantinya akan sangat berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat bagi para wisatawan. Zuckerman (2002) mengatakan bahwa kedokteran wisata atau travel medicine adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari persiapan kesehatan dan penatalaksanaan masalah kesehatan orang yang bepergian (travellers). Bidang ilmu ini baru saja berkembang dalam tiga dekade terakhir sebagai respons terhadap peningkatan arus perjalanan internasional di seluruh dunia. Tahun 2003, World Tourism Organization mencatat ada 691 juta international arrivals di seluruh bandara di dunia dan tahun 2020 diproyeksikan akan meningkat sampai 1.56 milyar.
Berdasarkan definisi di atas, pelayanan kedokteran wisata diberikan di negara-negara maju untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan bepergian ke negara-negara berkembang. Biasanya, orang-orang yang mendatangi pelayanan kedokteran wisata pada umumnya adalah orang sehat yang membutuhkan informasi dan mereka tidak menganggap dirinya sebagai seorang pasien, meskipun pada akhirnya status mereka berubah menjadi pasien setelah pulang dari perjalanan.
Pelayanan kedokteran wisata diberikan di travel clinic yang umumnya berada di negara-negara maju untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan bepergian ke negara-negara berkembang. Menurut World Tourism Organization (2000) bahwa waktu sekarang ini diperkirakan setiap tahun ada 80 juta orang yang bepergian dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang.
Sampai saat ini banyak orang beranggapan bahwa negara-negara berkembang hanya dianggap sebagai daerah tujuan wisata yang mempunyai risiko kesehatan yang harus mendapatkan perhatian khusus. Maka dari itu, konsultasi sebelum melakukan perjalanan sangat diperlukan oleh travellers yang bermaksud mengunjungi negara berkembang.
Namun, permasalahan yang timbul saat ini adalah pelayanan kesehatan di negara berkembang belum mempunyai tujuan yang jelas, yaitu senantiasa melindungi warga negara mereka yang akan bepergian. Oleh sebab itu, berbagai pengetahuan dan skill baru di bidang kedokteran wisata sangat dibutuhkan dan harus dikuasai oleh para tenaga kesehatan, salah satunya adalah mengenai travel clinic dan pelayanannya.
Di sini ada perbedaan bentuk komunikasi yang fundamental yang harus dipahami oleh tenaga kesehatan. Dalam praktek kedokteran konvensional, hubungan dokter pasien umumnya adalah ‘hubungan terapeutik’ dengan model paternalistik ketika dokter menentukan apa yang terbaik untuk si pasien. Namun, dalam pelayanan kedokteran wisata, dokter dan klien mempunyai hubungan sejajar yang bersifat informative (dokter berperan sebagai ahli teknis), interpretive (dokter berperan sebagai konselor untuk membantu klien memutuskan yang penting bagi dirinya), dan deliberative yaitu dokter berperan sebagai guru yang memberi tahu klien apa yang harus dikerjakan dan mengapa hal itu harus dikerjakan (Leggat & Goldsmid, 2002).
Perlu diketahui bahwa dokter tidak hanya mengusahakan pencegahan penyakit serta menangani berbagai masalah kesehatan pada travellers, namun juga berpartisipasi aktif untuk melakukan perbaikan pelayanan kesehatan dan keamanan wisatawan. Dengan demikian, seorang dokter kedokteran wisata harus selalu up to date dan mempunyai pengetahuan yang luas mengenai perubahan-perubahan yang cepat di seluruh dunia, seperti iklim global, ekologi, pengetahuan wabah penyakit, dan bahkan perubahan politik negara lain.
Mardh (2002) berpendapat bahwa saat ini travel medicine telah jauh berkembang dan meluas ke cabang-cabang ilmu lain seperti migrant health & refugees, kedokteran olahraga, adventure medicine, aviation medicine, bioterorisme, dan lain sebagainya. Setiap dokter dapat menemukan minatnya sendiri secara lebih khusus bahkan dapat menjadi sarana penyaluran hobi seperti diving, fotografi, dan lain-lain.
Disisi lain, pelayanan kedokteran wisata harus mencakup semua aspek. Di negara-negara maju, pelayanan kedokteran wisata dibuat di dalam rumah sakit. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan karena fasilitas yang lebih lengkap dari pada klinik umum. Di lain pihak, pelayanan kedokteran wisata yang profesional pada umumnya didirikan sebagai sebuah perusahaan. Lokasi yang dipilih lebih di tempat-tempat bisnis publik seperti mal dan biro perjalanan. Hal ini dipercaya dapat mempermudah para klien dalam mendapatkan akses berita perjalanan di berbagai tempat bisnis pada jam-jam kerja.
Pelayanan kedokteran wisata harus diberikan sebelum seseorang melakukan perjalanan. Saat yang paling baik adalah 6-8 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Namun, jika terlambat, 1-2 hari sebelum keberangkatan pun masih dimungkinkan. Di samping itu, klien juga mungkin akan kembali ke travel clinic setelah ia pulang dari bepergian, terutama jika terjadi gejala-gejala penyakit tertentu (Ryan, Wilson, & Kain, 2002).
Bentuk pelayanan kedokteran wisata yang dapat diberikan di travel clinic adalah mengenai imunisasi, medical kit, dan konsultasi sebelum perjalanan. Selain itu, pengembangan sarana tambahan seperti konsultasi melalui telepon, apotek, dan pelayanan penjualan alat-alat untuk pencegahan penyakit juga sangat diperlukan.
World Health Organization (2005) mengatakan bahwa pelayanan kedokteran wisata yang ideal merupakan suatu kesinambungan sejak sebelum berangkat sampai setelah pulang dari perjalanan. Sebanyak 1-5% orang yang bepergian dari negara-negara maju ke negara berkembang dilaporkan mengalami penyakit yang cukup serius selama perjalanan, 0,01-0,1% orang membutuhkan evakuasi medik, dan 1 dari antara 100.000 orang telah meninggal.
Maka dari itu, informasi yang aktual dan akurat merupakan hal yang sangat penting dalam kedokteran wisata. Berbagai nasihat dan saran perjalanan diberikan dalam bentuk edukasi dan konsultasi tentang resiko kesehatan yang dapat dialami seseorang selama melakukan perjalanan, baik pada saat di perjalanan maupun setelah tiba di tempat tujuan.
Untuk mempermudah penyampaian informasi kepada banyak orang, maka diperlukan cara komunikasi yang berbeda. Kita dapat membuat suasana yang lebih menyenangkan, seperti klien dapat bercerita tentang resiko kesehatannya dengan petugas kesehatan seperti dua orang yang sedang melakukan diskusi, bukan layaknya dokter yang memberi instruksi kepada pasiennya. Untuk menjelaskan berbagai hal kepada klien, maka diperlukan adanya brosur, leaflet, dan formulir.
Berbicara tentang travel clinic yang profesional, pasti kita akan mengarah pada fasilitas yang ada. Travel clinic yang baik harus mempunyai perangkat telekomunikasi seperti telepon, fax, dan  internet. Selain itu, travel clinic juga harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen berupa status khusus untuk perjalanan, kartu catatan imunisasi, dan sistem rekam medik yang baik. Ruangan pada travel clinic harus terpisah antara ruang tunggu, kamar konsultasi, dan ruang tindakan. Lebih bagusnya lagi jika menyediakan laboratorium atau menjalin kerja sama dengan laboratorium di luar klinik serta meyediakan bahan-bahan edukasi seperti brosur-brosur dan buku saku untuk berbagai masalah kesehatan dengan pencegahannya, buku-buku tentang perjalanan, informasi jaringan pelayanan kesehatan, dan juga informasi tentang alat-alat pencegahan penyakit.
Hal yang perlu diperhatikan adalah seorang dokter harus menyadari bahwa perjalanan yang sehat tidak hanya sekedar memberikan obat dan imunisasi, tetapi pemberian edukasi kepada klien juga merupakan elemen penting. Tujuan dari adanya konsultasi adalah harus mampu menunjukkan sumber-sumber informasi kepada traveller seperti pelayanan telepon.
Namun, pendidikan di negara-negara maju masih didasarkan pada kebutuhan mereka sendiri dan belum tentu relevan dengan kebutuhan di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di negara-negara berkembang sangat dianjurkan mengikuti simposium atau kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Kesehatan Wisata Dunia.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang cara-cara menyelenggarakan travel clinic, seorang tenaga kesehatan dapat memperolehnya secara formal dengan mengikuti pendidikan pascasarjana. Setelah itu, ia dapat mengikuti sertifikasi internasional yang diselenggarakan oleh ISTM setiap dua tahun sekali (Schiff, 2001).
Harapan ditahun ini adalah menjadi awal yang baik untuk memperbaiki pelayanan kedokteran wisata dunia, khususnya di Indonesia yang nantinya akan sangat berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat bagi para wisatawan. Sehingga kerja sama antara bidang penyedia kesehatan, agen biro perjalanan, dan wisatawan itu sendiri sangat diperlukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar