Translate

Selasa, 14 Mei 2013

SURAMNYA PENDIDIKAN TANAH AIR



Pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Proses pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman peserta didik, namun lebih diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku, dan kepribadian peserta didik. Setiap orang memiliki hak yang sama dalam mengenyam pendidikan setinggi-setingginya dan mampu memprediksi sampai mana pendidikan itu mereka tempuh serta dapat meraih pendidikan tersebut dalam keadaan yang wajar. Berbicara tentang pendidikan, alangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu pengertian tentang pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Anonim, Dasar Konsep Pendidikan Moral, 2003).
Pada saat ini, pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat (Anonim, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, 2010).
Masalah pendidikan merupakan persoalan yang pada saat ini telah merajalela dan menghantui rakyat Indonesia. Bagi beberapa orang, pendidikan masih merupakan basis polemik yang cukup sulit dipecahkan. Polemik ini selalu saja terjadi dari masa ke masa tanpa adanya penyelesaian yang jelas. Sangat tidak mengherankan, jika polemik ini mampu menembus seluruh lapisan masyarakat. Terlebih lagi bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil yang menganggap bahwa pendidikan merupakan sebuah kebutuhan teratas dari tatanan kehidupan sosial yang kemungkinan besar masih dalam batas impian. Namun, perlu dipertimbangkan secara seksama bahwa untuk menuju masyarakat sosial yang beradab, pendidikan merupakan faktor penunjang bagi individu dari suatu bangsa.
Secara tidak langsung, pendidikan di Indonesia cenderung memperkuat suatu sistem yang pada dasarnya tidak memihak rakyat miskin. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pendidikan di negeri ini masih berada pada tingkat yang belum sepenuhnya bisa dibanggakan apalagi diacungi jempol. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari alokasi dana APBN belum mampu menyentuh bahkan memenuhi seluruh kebutuhan institusi-institusi pendidikan pusat dan daerah, negeri, maupun swasta. Anggaran yang dialokasikan lebih dikhususkan kepada institusi pendidikan di kota-kota besar dengan jalan meminimalkan anggaran bagi daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau (Joewono, 2011).
Pemerintah terlalu menempatkan pembangunan politik dan ekonomi di atas segalanya. Bidang pendidikan masih belum bisa dijadikan takaran sukses bagi penguasa dalam menilai kinerja politiknya, padahal dalam konteks ini pendidikan mestinya diciptakan untuk menunjang laju pembangunan itu sendiri. Selain itu, banyak sekolah dan perguruan tinggi yang hanya digunakan untuk memperoleh ijasah formal dan pekerjaan saja. Namun yang terjadi setelah sekian tahun lamanya, justru pendidikan formal hanya memperbudak generasi penerus bangsa dan terlalu mahal bagi rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan yang jumlahnya mencapai puluhan juta orang.
Sesuai penjelasan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, ternyata hal tersebut sangatlah kontradiktif. Hal ini terjadi karena dalam konsep undang-undang, secara tidak langsung ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, namun di sisi lain ternyata pendidikan hanya milik rakyat kelas menengah ke atas. Permasalahan lain yang menimpa pendidikan di Indonesia adalah adanya tenaga pengajar yang masih minim pengalaman dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka peroleh semenjak di bangku perkuliahan. Masih banyak para pengajar yang memberlakukan teori mengajar dengan cara mencatat buku sampai habis diluar penguasaan materi yang akan diajarkan. Kesalahan yang sering terjadi adalah banyaknya pendidik yaang merasa puas jika siswanya telah mencatat semua materi yang sudah diberikan tanpa memikirkan lebih jauh apakah siswanya telah memahami keseluruhan materi yang telah dicatat atau belum. Selain itu, penyediaan fasilitas yang kurang memadai dan juga gaji pendidik yang relatif rendah juga mempengaruhi kinerja dari pendidik, sehingga lebih cenderung melalaikan kewajiban pokoknya, khususnya bagi perguruan swasta di daerah berpendapatan rendah. Maka dari itu, pengalaman yang dimiliki tenaga pendidik untuk mendidik siswanya merupakan ujung tombak penentu keberhasilan proses belajar mengajar.
Strategi belajar mengajar yang cocok diterapkan ialah strategi belajar mengajar heuristik atau kurioristik, di mana peserta didik mengolah sendiri pesan atau materi yang ditawarkan (Gulo.W, 2002). Dalam hal ini pendidik harus memposisikan dirinya sebagai pengarah materi pengajaran yang hendak diajarkan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kontrol kerja oleh pemerintah daerah setempat terhadap para pendidik yang kurang menjunjung tinggi kewajiban moral yang telah diembankan kepadanya. Melalui kontrol kerja diharapkan para pendidik lebih fokus terhadap kualitas dan kuantitas siswanya. Dengan adanya kontrol kerja, maka para pendidik diharapkan tidak malas kerja bahkan menyelewengkan waktu atau durasi kerja si pendidik tersebut. Masalah lain di negeri ini yang selalu menjadi sorotan publik adalah meskipun banyak kelompok mahasiswa dan masyarakat luas bersuara menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara melalui demonstrasi damai maupun demonstrasi anarkis, tapi sebuah proses tak bisa dipaksakan apalagi dihindari. Begitu juga dengan masalah pendidikan publik. Jika setia sama proses, maka setiap masalah pasti bisa ditanggulangi asalkan perjuangan tak putus di tengah jalan untuk mewujudkan pendidikan yang layak bagi siapa saja.
Sejalan dengan era informasi dalam dunia global ini, pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Kondisi tersebut tidak dapat dielakkan bahwa dalam proses pendidikan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman peserta didik yang perlu dibentuk, namun sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi peserta didik (Drost, 2001).
Terlebih lagi jika Indonesia ingin disetarakan dengan negara lainnya, maka perlu adanya pembenahan dari dalam. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu menonjolkan sesuatu yang pada dasarnya sudah menjadi kebanggaan bangsa sendiri, namun harus memahami segala kekurangan dan melakukan perbaikan antar masyarakat, sehingga kita tidak melupakan masyarakat kelas bawah yang terus menangis karena hak-hak mereka tidak terealisasikan dengan baik dan merata sebagai warga negara Indonesia. Sebagai contoh negara Malaysia mengirimkan mahasiswanya ke Indonesia untuk belajar. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka cari, kemudian mereka mengimplementasikannya buat bangsa dan negaranya sendiri. Sementara negara kita masih berputar-putar pada penegak reformasi yang sampai saat ini masih kabur, khususnya koruptor-koruptor yang masih bebas hukum sehingga negara bukan lagi untuk mengayomi rakyatnya, tetapi menjadi alat penindasan dan untuk menguntungkan bagi segelintir manusia-manusia kapital. Di sisi lain gejala kritis pendidikan yang terkait dengan kecenderungan negatif yang melanda negeri kita sebagai akibat globalisasi adalah bahwa pendidikan dijadikan sebagai arena bisnis terutama untuk meningkatkan penghasilan, bukan untuk meningkatkan kreativitas pembelajarannya.
Menurut (Sujarwo) kualitas pendidikan yang diandalkan sebagai wahana dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia masih memprihatinkan. Harian KOMPAS tanggal 5 September 2001 memberitakan bahwa Abdul Malik Fajar yang pada saat itu selaku Mendikbud juga mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih terburuk di kawasan Asia. Political and Economic Risk Consultancy (PERC) melakukan survei yang hasilnya dari 12 negara yang disurvei menyebutkan bahwa Indonesia menduduki urutan 12, sedangkan Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang, Taiwan, India, Cina dan Malaysia. Sedangkan berdasarkan hasil survei dari human development indeks tahun 2002, kualitas SDM kita berada di peringkat ke-110 dari 173 negara yang disurvei. Secara kuantitatif masih banyak anak-anak kita yang tidak mendapat layanan pendidikan secara memadai.
Dengan demikian, Indonesia sangat membutuhkan pendidikan yang berorientasi mutlak terhadap kemajuan seluruh negeri ini. Demi tercapainya peningkatan mutu pendidikan yang mampu berdaya saing terhadap pihak luar, maka pemerintah khususnya departemen pendidikan secepatnya perlu mengasah ide baru dan memilah-milah bagaimana sebaiknya pendidikan itu harus mampu meretas masalah kemiskinan, mengurangi, bahkan menghilangkan polemik pengangguran, dan mampu menguasai kemajuan teknologi modern masa kini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2003). Dasar Konsep Pendidikan Moral. In Undang-Undang Sisdiknas. Jakarta: Alfabeta.

Anonim. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kementrian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, Jakarta.

Drost, J. (2001). Sekolah Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta: Kanisius. 

Gulo.W. (2002). Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo.

Joewono, B. N. (2011, Juli 25). 20 Persen Dana Anggaran Dipertanyakan. Retrieved April 18, 2012, from http://edukasi.kompas.com

Sujarwo. (n.d.). Reorientasi Pengembangan Pendidikan di Era Global. Retrieved April 18, 2012, from http://pakguruonline.pendidikan.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar