Translate

Senin, 13 Mei 2013

SASMITALOKA SUDIRMAN Pesona Keberanian Sang Jenderal



Akhir-akhir ini, muncul gejala meningkatnya minat masyarakat dan pemerintah untuk mendirikan museum. Berbicara museum, ada baiknya melihat rujukan definisi yang dirumuskan para ahli permuseuman yang tergabung dalam ICOM (International Council of Museum) dan diubah terakhir kali dalam Majelis Umum ICOM ke-11, 14 Juni 1947 di Copenhagen bahwa museum adalah institusi permanen yang melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Oleh karena itu pada tulisan ini dibahas mengenai faktor penyebab penurunan minat kunjungan museum dan solusi agar museum menjadi daerah tujuan wisata.
Sumadio (1991) mengatakan bahwa museum dapat berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan pelestarian terhadap berbagai benda atau artefak dari masa lalu yang dianggap penting, menyediakan sarana pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam bentuk visual, dan juga sebagai tempat rekreasi yang dapat dijadikan tujuan wisata masyarakat.
      Berdasarkan definisi di atas, dapat diketahui bahwa museum memiliki peran penting bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya, justru antusias masyarakat ke museum masih rendah, khususnya Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Hal itu dikarenakan sebagian besar dari mereka masih berpikir bahwa museum dianggap sebagai tempat kuno yang tidak menarik. Menurut Tnunay (1991), Sasmitaloka terbagi menjadi Gedung Induk yang berisi koleksi benda-benda Pak Dirman beserta keluarga semasa tinggal di sini. Selain itu masih ada gedung yang dibangun di sebelah kanan, belakang, dan kiri Gedung Induk, yang mengoleksi benda-benda semasa menjadi Panglima Besar yang bergerilya dari satu tempat ke tempat lain.
      Bangunan beraksitektur kolonial ini terletak di Jl. Bintaran Wetan no. 3 Yogyakarta dan dijadikan museum mulai tanggal 30 Agustus 1982. Koleksi museum berjumlah 599 koleksi yang terdiri dari senjata, keris, perabot rumah tangga, kendaraan, pakaian, tandu, dan lain-lain yang dipamerkan dalam 14 ruang pameran tetap (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, 2010).
Sebagaimana hasil wawancara dengan Sumantri (Penata Ruang dan Pemandu Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman, 1 Juni 2011) mengatakan bahwa jumlah kunjungan di Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman setiap bulannya mengalami penurunan. Pada bulan Januari tahun 2011, jumlah kunjungan ke museum ini mencapai 1721 pengunjung, lalu turun menjadi 1585 pengunjung pada bulan Februari 2011, bahkan pada bulan Maret 2011 turun kembali menjadi 1020 pengunjung. Keadaan semacam ini sangat jelas mengindikasikan bahwa museum tersebut kurang diminati sebagai salah satu tujuan wisata.
Kondisi lapangan menunjukkan bahwa kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaan yang sudah dilakukan sangat seadanya. Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik. Kondisi sumber daya manusia di museum pun memprihatinkan. Edukator (programmer) kurang profesional, kehumasan (public relation) lemah dan kurang aktif serta pemasaran yang stagnan. Kondisi ini diperparah pula dengan penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak kepada museum dan museum dinilai belum sebagai destinasi yang potensial (Kompas, 16 April 2009).
Bentuk apresiasi yang nyata bagi suatu museum adalah banyaknya kunjungan dari masyarakat ke museum, banyaknya kegiatan yang dilakukan masyarakat berkenaan dengan kedudukan museum, dan bermacam aktivitas masyarakat yang terkait dengan sesuatu museum. Masyarakat merupakan organisme sosial yang dinamis, wujudnya pun bermacam-macam serta banyak kategori yang dapat dikenakan kepadanya. Dapat dinyatakan bahwa masyarakat pengunjung museum adalah salah satu segmen khusus masyarakat yang secara sadar atau tidak sadar mau mendatangi museum, karena kunjungan ke museum-museum di Indonesia masih belum banyak dilakukan oleh masyarakat (Munandar, 2011).
Tampilan fisik museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman yang biasa saja mengakibatkan masyarakat enggan untuk meluangkan waktu berkunjung ke museum tersebut karena dianggap kuno dan membosankan. Apalagi kalangan muda saat ini lebih memilih ke bioskop, mall, atau tempat-tempat rekreatif lainnya yang dianggap lebih menarik dari pada ke museum. Padahal museum dapat menjadi suatu tempat yang menarik bila didukung dengan lansekap yang khas, misalnya taman museum dengan lansekap yang indah dan pencahayaan dalam museum yang pas, akan memberikan nuansa yang berbeda dengan tempat lainnya.
Kurangnya promosi di museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman mengakibatkan tingkat pengunjung museum yang semakin menurun dan bahkan kurang diminati oleh masyarakat. Solusinya adalah tampilan museum Sasmitaloka Jenderal  Sudirman secara fisik harus dibuat lebih menarik agar bangunan museum dan isinya dapat memberikan nuansa yang khas. Paling tidak dapat menarik wisatawan untuk sekedar berfoto dengan spot disekitar museum Sasmitaloka Sudirman dan mereka pastinya juga akan secara otomatis mencari tahu isi museum.
Seperti yang dikatakan Atmadjaja (2002), pengembangan antara lain dilakukan pada eksterior seperti lansekap dan bentuk bangunan, juga interior seperti sistem penyajian. Aspek citra yang mendasari seluruh keputusan disain menjadi faktor pertimbangan utama, yang menjadi ciri khas museum, dan   mampu  menjadi daya tarik museum itu sendiri. Dalam hal ini tema disain sangat ditekankan. Pada disain lansekap dan bentuk bangunan citra yang muncul diharapkan bersifat kontekstual, dalam arti mampu mencerminkan tujuan dan fungsi museum, termasuk karakter aktivitas, karakter sasaran pengunjung, dan sebagainya.
Promosi juga perlu dilakukan untuk menarik minat sekaligus memperkenalkan museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh sebagai upaya promosi museum kepada masyarakat, antara lain dengan cara mengadakan pameran budaya lokal, pagelaran kesenian dan diskusi, workshop, wajib kunjung museum bagi para pelajar, dan berbagai jenis perlombaan. Selain itu, pendataan kembali semua koleksi museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman merupakan hal penting untuk melihat karakteristik museum tersebut. Disisi lain, pendataan juga berfungsi untuk mengetahui kelengkapan koleksi sesuai dengan daftar inventarisasi, apakah keadaannya terawat atau mulai mengalami kerusakan. Setelah melakukan inventarisasi, pengelola museum harus berorientasi yang lebih besar kepada pelayanan publik dan juga menjalin kerja sama dengan pihak-pihak seperi Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, dan media massa untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berpusat di museum, pemasaran museum melalui blog, menyelenggarakan pameran, dan juga mengaktifkan kembali study tour ke museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman.
Dengan demikian, langkah semacam itu menjadi penting dalam meningkatkan semangat kunjungan ke museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Tetapi selain itu, sesungguhnya kita perlu juga mengadaptasi penggunaan teknologi permuseuman yang lebih maju agar sistem pengelolaan museum menjadi lebih baik dan lebih canggih. Disisi lain, seluruh kegiatan tersebut harus mampu mengubah citra museum yang terkesan tua, kuno, kumuh, dan angker. Oleh Karena itu, dukungan dari pemerintah daerah menjadi penting. Harapan di tahun 2011 ini adalah menjadi awal yang baik untuk mengembalikan museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman sebagai warisan yang bernilai edukasi yang bermanfaat untuk pengetahuan dan jati diri anak bangsa di tengah pengaruh global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar