Akhir-akhir ini, muncul gejala meningkatnya minat
masyarakat dan pemerintah untuk mendirikan museum. Berbicara museum, ada
baiknya melihat rujukan definisi yang dirumuskan para ahli permuseuman yang tergabung
dalam ICOM (International Council of Museum) dan diubah terakhir kali dalam Majelis
Umum ICOM ke-11, 14 Juni 1947 di Copenhagen bahwa museum adalah institusi
permanen yang melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara
melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan
memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan
kesenangan. Oleh karena itu pada tulisan ini dibahas mengenai faktor penyebab
penurunan minat kunjungan museum dan solusi agar museum menjadi daerah tujuan
wisata.
Sumadio (1991) mengatakan bahwa museum dapat berfungsi
sebagai tempat untuk melaksanakan pelestarian terhadap berbagai benda atau
artefak dari masa lalu yang dianggap penting, menyediakan sarana pendidikan dan
ilmu pengetahuan dalam bentuk visual, dan juga sebagai tempat rekreasi yang
dapat dijadikan tujuan wisata masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas, dapat
diketahui bahwa museum memiliki peran penting bagi masyarakat. Namun pada
kenyataannya, justru antusias masyarakat ke museum masih rendah, khususnya
Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Hal itu dikarenakan sebagian besar dari
mereka masih berpikir bahwa museum dianggap sebagai tempat kuno yang tidak
menarik. Menurut Tnunay (1991), Sasmitaloka terbagi menjadi Gedung Induk yang
berisi koleksi benda-benda Pak Dirman beserta keluarga semasa tinggal di sini.
Selain itu masih ada gedung yang dibangun di sebelah kanan, belakang, dan kiri
Gedung Induk, yang mengoleksi benda-benda semasa menjadi Panglima Besar yang
bergerilya dari satu tempat ke tempat lain.
Bangunan beraksitektur kolonial ini
terletak di Jl. Bintaran Wetan no. 3 Yogyakarta dan dijadikan museum mulai
tanggal 30 Agustus 1982. Koleksi museum berjumlah 599 koleksi yang terdiri dari
senjata, keris, perabot rumah tangga, kendaraan, pakaian, tandu, dan lain-lain
yang dipamerkan dalam 14 ruang pameran tetap (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kota Yogyakarta, 2010).
Sebagaimana hasil
wawancara dengan Sumantri (Penata Ruang dan Pemandu Museum Sasmitaloka Jenderal
Sudirman, 1 Juni 2011) mengatakan bahwa jumlah kunjungan di Museum Sasmitaloka
Jenderal Sudirman setiap bulannya mengalami penurunan. Pada bulan Januari tahun
2011, jumlah kunjungan ke museum ini mencapai 1721 pengunjung, lalu turun
menjadi 1585 pengunjung pada bulan Februari 2011, bahkan pada bulan Maret 2011
turun kembali menjadi 1020 pengunjung. Keadaan semacam ini sangat jelas
mengindikasikan bahwa museum tersebut kurang diminati sebagai salah satu tujuan
wisata.
Kondisi lapangan
menunjukkan bahwa kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif,
tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaan yang sudah dilakukan sangat seadanya.
Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada
publik. Kondisi sumber daya manusia di museum pun memprihatinkan. Edukator
(programmer) kurang profesional, kehumasan (public relation) lemah dan kurang
aktif serta pemasaran yang stagnan. Kondisi ini diperparah pula dengan
penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak kepada museum dan museum dinilai
belum sebagai destinasi yang potensial (Kompas, 16 April 2009).
Bentuk apresiasi yang
nyata bagi suatu museum adalah banyaknya kunjungan dari masyarakat ke museum,
banyaknya kegiatan yang dilakukan masyarakat berkenaan dengan kedudukan museum,
dan bermacam aktivitas masyarakat yang terkait dengan sesuatu museum.
Masyarakat merupakan organisme sosial yang dinamis, wujudnya pun bermacam-macam
serta banyak kategori yang dapat dikenakan kepadanya. Dapat dinyatakan bahwa
masyarakat pengunjung museum adalah salah satu segmen khusus masyarakat yang
secara sadar atau tidak sadar mau mendatangi museum, karena kunjungan ke
museum-museum di Indonesia masih belum banyak dilakukan oleh masyarakat
(Munandar, 2011).
Tampilan fisik museum Sasmitaloka
Jenderal Sudirman yang biasa saja mengakibatkan masyarakat enggan untuk
meluangkan waktu berkunjung ke museum tersebut karena dianggap kuno dan
membosankan. Apalagi kalangan muda saat ini lebih memilih ke bioskop, mall,
atau tempat-tempat rekreatif lainnya yang dianggap lebih menarik dari pada ke
museum. Padahal museum dapat menjadi suatu tempat yang menarik bila didukung
dengan lansekap yang khas, misalnya taman museum dengan lansekap yang indah dan
pencahayaan dalam museum yang pas, akan memberikan nuansa yang berbeda dengan
tempat lainnya.
Kurangnya promosi di
museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman mengakibatkan tingkat pengunjung museum
yang semakin menurun dan bahkan kurang diminati oleh masyarakat. Solusinya
adalah tampilan museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman secara fisik harus dibuat lebih
menarik agar bangunan museum dan isinya dapat memberikan nuansa yang khas. Paling
tidak dapat menarik wisatawan untuk sekedar berfoto dengan spot disekitar
museum Sasmitaloka Sudirman dan mereka pastinya juga akan secara otomatis
mencari tahu isi museum.
Seperti yang dikatakan Atmadjaja
(2002), pengembangan antara lain dilakukan pada eksterior seperti lansekap dan
bentuk bangunan, juga interior seperti sistem penyajian. Aspek citra yang mendasari
seluruh keputusan disain menjadi faktor pertimbangan utama, yang menjadi ciri
khas museum, dan mampu menjadi daya tarik museum itu sendiri. Dalam
hal ini tema disain sangat ditekankan. Pada disain lansekap dan bentuk bangunan
citra yang muncul diharapkan bersifat kontekstual, dalam arti mampu mencerminkan
tujuan dan fungsi museum, termasuk karakter aktivitas, karakter sasaran
pengunjung, dan sebagainya.
Promosi juga perlu
dilakukan untuk menarik minat sekaligus memperkenalkan museum Sasmitaloka
Jenderal Sudirman. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh sebagai upaya promosi
museum kepada masyarakat, antara lain dengan cara mengadakan pameran budaya
lokal, pagelaran kesenian dan diskusi, workshop, wajib kunjung museum bagi para
pelajar, dan berbagai jenis perlombaan. Selain itu, pendataan kembali semua
koleksi museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman merupakan hal penting untuk
melihat karakteristik museum tersebut. Disisi lain, pendataan juga berfungsi
untuk mengetahui kelengkapan koleksi sesuai dengan daftar inventarisasi, apakah
keadaannya terawat atau mulai mengalami kerusakan. Setelah melakukan
inventarisasi, pengelola museum harus berorientasi yang lebih besar kepada
pelayanan publik dan juga menjalin kerja sama dengan pihak-pihak seperi Dinas
Pendidikan, Dinas Pariwisata, dan media massa untuk menyelenggarakan
kegiatan-kegiatan yang berpusat di museum, pemasaran museum melalui blog,
menyelenggarakan pameran, dan juga mengaktifkan kembali study tour ke
museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman.
Dengan demikian, langkah
semacam itu menjadi penting dalam meningkatkan semangat kunjungan ke museum
Sasmitaloka Jenderal Sudirman. Tetapi selain itu, sesungguhnya kita perlu juga
mengadaptasi penggunaan teknologi permuseuman yang lebih maju agar sistem
pengelolaan museum menjadi lebih baik dan lebih canggih. Disisi lain, seluruh
kegiatan tersebut harus mampu mengubah citra museum yang terkesan tua, kuno,
kumuh, dan angker. Oleh Karena itu, dukungan dari pemerintah daerah menjadi
penting. Harapan di tahun 2011 ini adalah menjadi awal yang baik untuk
mengembalikan museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman sebagai warisan yang
bernilai edukasi yang bermanfaat untuk pengetahuan dan jati diri anak bangsa di
tengah pengaruh global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar