Translate

Minggu, 29 September 2013

PASAR LEGI KOTAGEDE “Konsep Catur Gatra Tunggal”



Terpisah tapi terhubung oleh koridor jalan-jalan. Itu lah konsep Catur Gatra Tunggal, empat wahana menjadi kesatuan tunggal. Para sejarawan mengatakan bahwa lokasi pasar Kotagede adalah sama dengan pasar Gedhe di zaman Mataram. Keraton Mataram sebagai pusat kekuasaan, masjid sebagai pusat peribadatan, alun-alun sebagai pusat adat budaya masyarakat, dan pasar sebagai pusat perekonomian.
Dahulu kala, Sutawijaya membangun sebuah pasar besar dengan cara membuka hutan Mentaok. Tujuannya adalah untuk mengembangkan sebuah kota. Awal mulanya, kota itu dikenal dengan sebutan Pasar Gedhe, atau lebih sering disebut dengan Sargedhe. Keputusan Sutawijaya untuk membuka pasar dinilai sangat tepat. Pasar adalah jantung perekonomian yang membuat perdagangan menjadi hidup, kota menjadi ramai, dan makmur. Pada waktu itu, masyarakat mengembangkan diri bekerja di berbagai macam profesi yang senantiasa dekat dengan pasar. Akibatnya, mulai bermunculan toponim nama kampung berdasarkan profesi yang berkaitan dengan pasar. Misalnya, kampung Sayangan di barat pasar, kampung Pandean di timur pasar, dan kampung Samakan di selatan pasar.
Menjelang tahun 1960, banyak kios yang mulai bermunculan di sebelah utara dan barat pasar Kotagede. Pada waktu itu, kawasan pasar Kotagede masih dikelilingi kawat berduri dan di dalam pasar ditumbuhi beberapa pohon waru besar. Banyak pendatang yang menetap di dalam pasar pada zaman dahulu, seperti pedagang arang, pedagang kayu bakar, warung nasi, maupun warung wedang. Salah satu penghuninya yang legendaries bernama Sonto dan Beles, yaitu seorang bandar judi kartu yang beraktifitas di tengah pasar.
Seiring dengan perkembangan zaman, nama pasar Legi pun kini sedikit demi sedikit menggantikan nama yang sebenarnya. Di pasar Kotagede, pasaran legi adalah aktifitas luberan pasar, di mana kegiatan jual beli para pedagang berada di luar bangunan pasar, di tengah jalan, ataupun di lorong-lorong kampung sekitar pasar. Aktivitas perdagangan jauh lebih besar di hari Legi daripada di hari lain. Banyak pedagang dari Piyungan, Imogiri, Terong, Dlingo, ataupun Magelang yang berjualan di pasar Kotagede ketika memasuki pasaran Legi.
Pada pasaran Legi, jenis dagangan di pasar Kotagede juga lebih lengkap. Tidak hanya menjual barang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berbagai peralatan pertanian, burung, ikan hias, unggas, dan bahkan majalah. Biasanya, para tukang obat, tukang sulap, tukang ramal, dan tukan kerokan juga tampil ketika pasaran Legi. Kini, nama pasar Kotagede sudah membaur dengan pasar Legi. Sering sekali pasar Kotagede disebut dengan pasar Legi atau biasa disingkat Sarlegi. Bahkan, nama pasar Legi akhirnya terpahat di atas gerbang pintu utama pasar.

Sumber: Toponim Kotagede, Asal Muasal Nama Tempat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar