Translate

Jumat, 17 Mei 2013

Mataram di Kotagede Bersemi di Lubuk Jawa



Kebangkitan kerajaan Mataram di Kotagede menengarai awal kembalinya Jawa Tengah bagian selatan dalam percaturan kekuasaan di Jawa. Hampir seribu tahun sebelumnya, wilayah ini adalah pusat kekuasaan dengan hasil karya peradaban yang menakjubkan dunia, yang kemudian ditinggalkan.
Coba lihatlah, Jawa Tengah bagian selatan ini, merupakan area persebaran, pertumbuhan, perkembangan, kejatuhan, dan perpindahan berbagai kerajaan Jawa, dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan asset budaya hasil peradaban masa lampau bernilai tinggi, baik berupa warisan budaya fisik maupun budaya non fisik.
Berbagai dinasti kerajaan di Jawa yang memberi pengaruh dan mewarnai keberadaan kerajaan Mataram di Kotagede, antara lain kerajaan Mataram kuno yang didirikan pada abad ke-7 oleh Dapunta Syailendra dan kerajaan Mataram Hindu yang didirikan dan diperintah oleh dinasti Sanjaya pada tahun 717 s/d 925.
Setelah itu, pusat-pusat kekuasaan bergeser ke timur dan kian mendekati pantai. Pada awal perkembangan Islam di Jawa, hampir semua kerajaan terletak di sepanjangan pantai utara, seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan Surabaya.
Sunan Pandanaran, salah satu pendakwah Islam terkemuka yang semula berkedudukan sebagai bupati Semarang, merintis tumbuhnya peradaban di bagian pedalaman Jawa ini, tepatnya di bukit Tembayat di dekat Klaten sekarang. Namun demikian, pengaruh kekuasaan wali yang juga sering disebut sebagai Sunan Tembayat ini, lebih pada wilayah keagamaan.
Kerajaan Pajang juga tumbuh pada saat itu, tapi usianya tak lebih dari satu generasi penguasa. Setidaknya baru Ki Ageng Pemanahan yang benar-benar membina kekuasaan baru di wilayah pedalaman Jawa ini. Negeri yang disebut Mataram (Kotagede) ini kemudian menjadi pemain penting dalam panggung sejarah di Jawa hingga beratus tahun kemudian.
Kotagede merupakan ibukota pertama kerajaan Mataram Islam. Kerajaan ini berdiri tidak lama setelah berakhirnya kerajaan Pajang pada perempat abad ke-16. Kerajaan Mataram Islam di Kotagede ini berlangsung selama 180 tahun, sejak dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575 sampai dengan berakhirnya kekuasaan dinasti Mataram Islam pada tahun 1755 semasa pemerintahan Sunan Pakubuwono ketiga.
Selama masa keberadaan kerajaan Mataram Islam ini, terjadi pergantian kepala pemerintahan sebanyak 11 kali dan perpindahan ibukota kerajaan sebanyak 4 kali, dimulai dari Kotagede, kemudian Kerto-Pleret, keduanya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, serta berpindah ke Kartosuro dan kemudian Sala, kedua ibukota terakhir ini berada di wilayah Jawa Tengah.
Pada masa kekuasaan Penembahan Senopati, hampir sepanjang masa pemerintahannya digunakan untuk melakukan penaklukan-penaklukan, tentu saja setelah pengaruh kekuasaan Pajang surut, Panembahan Senopati menyatukan lagi wilayah-wilayah Pajang yang berusaha melepaskan diri di bawah panji-panji Mataram.
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan ini menjangkau hampir semua bagian terpenting di pulau Jawa. Beberapa bagian Sumatera dan Kalimantan pun mengakui kekuasaannya. Sultan Agung merupakan raja keempat dari dinasti Mataram Islam. Ia berkuasa dari sejak tahun 1613-1645. Sultan Agung merupakan raja Mataram Islam yang paling menonjol diantara ke-11 raja-raja Mataram Islam lainnya. Pada lima tahun pertama kekuasaannya, Sultan Agung bertempat tinggal di Kotagede, namun pada tahun 1618, beliau mulai berkraton di Kerto sampai wafatnya. Berdasarkan atas fakta, Mataram Islam di Kotagede ini eksis sebagai ibukota kerajaan selama kurang lebih 43 tahun (1575-1618).
Kini, kedigdayaan kekuasaan pemerintahan Mataram Islam di Kotagede hanya meninggalkan kenangan berupa komponen-komponen situs dan peninggalan artefak. Komponen-komponen situs di Kotagede antara lain:
1.  Pintu Gerbang Pabean
Beberapa pintu gerbang Pabean merupakan tempat petugas memungut cukai dari orang-orang yang masuk atau keluar Mataram. Namun di dalam penelitian arkeologi belum berhasil diungkapkan data artefaktual yang berkaitan dengan keberadaan pintu gerbang Pabean tersebut.
2.  Benteng
Jalur dari benteng adalah sebagai berikut:
v  Cepuri (Benteng Dalam)
Sudut tenggara jalur struktur yang melengkung disebut Bokong Semar.
v  Lawan Seketin
Merupakan pintu masuk kraton Mataram. Pagarnya dibuat dari potongan-potongan batu andesit. Bagian belakangnya berdiri di atas tebing kali yang airnya mengalir deras. Pada waktu Van Mook menulis artikel tentang ‘Kotagede’, penduduk menyebutnya sebagai ‘Benteng Njero’.
v  Kota Batu Putih (Benteng Cepuri)

v  Cota Saba dan Cota Dalam
Adalah tempat tinggal ayah raja. Tinggi tembok antara 24-30 kaki dan lebarnya 4 kaki.
v  Jagang (Parit) keliling untuk pertahanan
Di bagian luar Cepuri dan Baluwarti terdapat cekungan memanjang dengan kedalaman 1-3 meter, lebar antara 15-25 meter. Di atas jagang sudah berdiri bangunan baru, disamping masih juga yang berupa persawahan.
Peninggalan artefak di Kotagede yang masih bisa diidentifikasi baik berupa artefak yang masih utuh sampai arter=fak yang brwujud puing-puing adalah sebagai berikut:
Ø  Puing-puing bata putih dan bata merah, bekas benteng baluwarti di kampung Baluwarti Basen.
Ø  Situs Kedhaton dan nDalem.
Ø  Bokong Semar.
Ø  Jagang.
Ø  Pasar, MAsjid, Alun-alun (menjadi perkampungan).
Ø  Makam raja-raja Mataram.
Ø  Sendang seliran.
Ø  Sendang Kemuning.
Ø  Batu Cantheng, Batu Gilang, dan Batu Gentong.

Ditulis oleh: Erwito Wibowo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar