Kebangkitan
kerajaan Mataram di Kotagede menengarai awal kembalinya Jawa Tengah bagian
selatan dalam percaturan kekuasaan di Jawa. Hampir seribu tahun sebelumnya,
wilayah ini adalah pusat kekuasaan dengan hasil karya peradaban yang
menakjubkan dunia, yang kemudian ditinggalkan.
Coba lihatlah,
Jawa Tengah bagian selatan ini, merupakan area persebaran, pertumbuhan,
perkembangan, kejatuhan, dan perpindahan berbagai kerajaan Jawa, dikenal sebagai
wilayah yang kaya akan peninggalan asset budaya hasil peradaban masa lampau
bernilai tinggi, baik berupa warisan budaya fisik maupun budaya non fisik.
Berbagai
dinasti kerajaan di Jawa yang memberi pengaruh dan mewarnai keberadaan kerajaan
Mataram di Kotagede, antara lain kerajaan Mataram kuno yang didirikan pada abad
ke-7 oleh Dapunta Syailendra dan kerajaan Mataram Hindu yang didirikan dan
diperintah oleh dinasti Sanjaya pada tahun 717 s/d 925.
Setelah itu,
pusat-pusat kekuasaan bergeser ke timur dan kian mendekati pantai. Pada awal
perkembangan Islam di Jawa, hampir semua kerajaan terletak di sepanjangan
pantai utara, seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan Surabaya.
Sunan
Pandanaran, salah satu pendakwah Islam terkemuka yang semula berkedudukan
sebagai bupati Semarang, merintis tumbuhnya peradaban di bagian pedalaman Jawa
ini, tepatnya di bukit Tembayat di dekat Klaten sekarang. Namun demikian,
pengaruh kekuasaan wali yang juga sering disebut sebagai Sunan Tembayat ini,
lebih pada wilayah keagamaan.
Kerajaan Pajang
juga tumbuh pada saat itu, tapi usianya tak lebih dari satu generasi penguasa.
Setidaknya baru Ki Ageng Pemanahan yang benar-benar membina kekuasaan baru di
wilayah pedalaman Jawa ini. Negeri yang disebut Mataram (Kotagede) ini kemudian
menjadi pemain penting dalam panggung sejarah di Jawa hingga beratus tahun
kemudian.
Kotagede
merupakan ibukota pertama kerajaan Mataram Islam. Kerajaan ini berdiri tidak
lama setelah berakhirnya kerajaan Pajang pada perempat abad ke-16. Kerajaan Mataram
Islam di Kotagede ini berlangsung selama 180 tahun, sejak dirintis oleh Ki
Ageng Pemanahan pada tahun 1575 sampai dengan berakhirnya kekuasaan dinasti
Mataram Islam pada tahun 1755 semasa pemerintahan Sunan Pakubuwono ketiga.
Selama masa
keberadaan kerajaan Mataram Islam ini, terjadi pergantian kepala pemerintahan
sebanyak 11 kali dan perpindahan ibukota kerajaan sebanyak 4 kali, dimulai dari
Kotagede, kemudian Kerto-Pleret, keduanya di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta, serta berpindah ke Kartosuro dan kemudian Sala, kedua ibukota
terakhir ini berada di wilayah Jawa Tengah.
Pada masa
kekuasaan Penembahan Senopati, hampir sepanjang masa pemerintahannya digunakan
untuk melakukan penaklukan-penaklukan, tentu saja setelah pengaruh kekuasaan
Pajang surut, Panembahan Senopati menyatukan lagi wilayah-wilayah Pajang yang
berusaha melepaskan diri di bawah panji-panji Mataram.
Di bawah
kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaannya. Wilayah
kerajaan ini menjangkau hampir semua bagian terpenting di pulau Jawa. Beberapa
bagian Sumatera dan Kalimantan pun mengakui kekuasaannya. Sultan Agung
merupakan raja keempat dari dinasti Mataram Islam. Ia berkuasa dari sejak tahun
1613-1645. Sultan Agung merupakan raja Mataram Islam yang paling menonjol
diantara ke-11 raja-raja Mataram Islam lainnya. Pada lima tahun pertama
kekuasaannya, Sultan Agung bertempat tinggal di Kotagede, namun pada tahun
1618, beliau mulai berkraton di Kerto sampai wafatnya. Berdasarkan atas fakta,
Mataram Islam di Kotagede ini eksis sebagai ibukota kerajaan selama kurang
lebih 43 tahun (1575-1618).
Kini,
kedigdayaan kekuasaan pemerintahan Mataram Islam di Kotagede hanya meninggalkan
kenangan berupa komponen-komponen situs dan peninggalan artefak.
Komponen-komponen situs di Kotagede antara lain:
1.
Pintu Gerbang Pabean
Beberapa pintu gerbang Pabean merupakan tempat petugas memungut
cukai dari orang-orang yang masuk atau keluar Mataram. Namun di dalam
penelitian arkeologi belum berhasil diungkapkan data artefaktual yang berkaitan
dengan keberadaan pintu gerbang Pabean tersebut.
2.
Benteng
Jalur dari
benteng adalah sebagai berikut:
v Cepuri
(Benteng Dalam)
Sudut tenggara
jalur struktur yang melengkung disebut Bokong Semar.
v Lawan
Seketin
Merupakan pintu
masuk kraton Mataram. Pagarnya dibuat dari potongan-potongan batu andesit.
Bagian belakangnya berdiri di atas tebing kali yang airnya mengalir deras. Pada
waktu Van Mook menulis artikel tentang ‘Kotagede’, penduduk menyebutnya sebagai
‘Benteng Njero’.
v Kota
Batu Putih (Benteng Cepuri)
v Cota
Saba dan Cota Dalam
Adalah tempat
tinggal ayah raja. Tinggi tembok antara 24-30 kaki dan lebarnya 4 kaki.
v Jagang
(Parit) keliling untuk pertahanan
Di bagian luar Cepuri dan
Baluwarti terdapat cekungan memanjang dengan kedalaman 1-3 meter, lebar antara
15-25 meter. Di atas jagang sudah berdiri bangunan baru, disamping masih juga
yang berupa persawahan.
Peninggalan
artefak di Kotagede yang masih bisa diidentifikasi baik berupa artefak yang
masih utuh sampai arter=fak yang brwujud puing-puing adalah sebagai berikut:
Ø Puing-puing
bata putih dan bata merah, bekas benteng baluwarti di kampung Baluwarti Basen.
Ø Situs
Kedhaton dan nDalem.
Ø Bokong
Semar.
Ø Jagang.
Ø Pasar,
MAsjid, Alun-alun (menjadi perkampungan).
Ø Makam
raja-raja Mataram.
Ø Sendang
seliran.
Ø Sendang
Kemuning.
Ø Batu
Cantheng, Batu Gilang, dan Batu Gentong.
Ditulis oleh: Erwito Wibowo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar